Nasib Bayi Daud Yang Mati Oleh Pak Budi Asali ( 1 Desember 2024 )
kebaktian online
G. K. R. I. ‘GOLGOTA’
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 1 Desember 2024, pk 09.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 12:1-25(7)
2Sam 12:1-25 - “(1) TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang
kepada Daud dan berkata kepadanya: ‘
g) Kebingungan pegawai-pegawai Daud dan jawaban Daud.
Ay 21-23: “(21)
Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: ‘Apakah artinya hal yang kauperbuat
ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis,
tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!’ (22) Jawabnya: ‘Selagi
anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN
mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (23) Tetapi
sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku
mengembalikannya lagi? Aku
yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.’”.
1. Pegawai-pegawai Daud berani menanyakan pertanyaan
ini (ay 21), menunjukkan bahwa Daud adalah orang saleh dan mempunyai hubungan
baik dengan pegawai-pegawainya. Seandainya Daud merupakan seorang raja yang
tiran, diktator, kejam dsb, para pegawainya tidak akan berani bertanya apapun
tentang sikap Daud yang mereka anggap aneh tersebut.
2. Ay 22-23 merupakan jawaban Daud terhadap
pertanyaan pegawai-pegawainya.
a. Ay 23a: memang berdoa / berpuasa untuk orang yang sudah mati sama sekali tidak ada gunanya. Doa itu tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati itu (kecuali dalam kasus-kasus khusus).
b. Bagaimana kalau doa untuk orang mati itu
ditujukkan untuk ‘memperbaiki keadaan orang mati itu’?
Jawab:
(1) Kita tidak mempercayai doktrin Katolik tentang
api penyucian, yang sama sekali tidak ada dasar alkitabnya, kecuali kalau
ayat-ayatnya diputar-balikkan. Jadi setelah kematian, hanya ada surga dan
neraka.
(2) Kalau orang mati itu masuk surga, tidak ada
gunanya ia didoakan. Dia bahkan lebih berbahagia dari kita yang masih hidup.
(3) Kalau orang mati itu masuk neraka, juga tidak
ada gunanya mendoakan dia, karena antara surga dan neraka ada jurang yang tidak
bisa diseberangi (Luk 16:26).
Luk 16:26 - “Selain
dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi,
supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang
dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.”.
3. Apakah kata-kata terakhir dari ay 23 itu
menunjukkan bahwa bayi yang mati itu masuk surga?
Ay 23b: “Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali
kepadaku.’”.
a. Pertama-tama saya akan memberikan tafsiran
dari banyak penafsir tentang ay 23b ini.
Matthew Henry: “‘I
cannot bring him back again;’ and again, ‘He shall not return to me.’ Those
that are dead are out of the reach of prayer; nor can our tears profit them. We
can neither weep nor pray them back to this life. Wherefore then should we
fast? To what purpose is this waste? Yet David fasted and wept for Jonathan
when he was dead, in honour to him.” [= ‘Aku tidak dapat
membawanya kembali,’ dan lagi, ‘Ia tidak akan kembali kepadaku.’ Mereka
yang telah meninggal berada di luar jangkauan doa; air mata kita
pun tidak dapat memberi manfaat bagi mereka. Kita tidak bisa menangis atau
berdoa untuk mengembalikan mereka ke kehidupan ini. Mengapa kita harus
berpuasa? Apa gunanya pemborosan ini? Namun, Daud berpuasa dan menangis
untuk Yonatan ketika ia meninggal, sebagai penghormatan
baginya.].
Matthew Henry:
“‘I
shall go to him.’ First, To him to the grave. Note, The consideration of our own
death should moderate our sorrow at the death of our relations. It is the
common lot; instead of mourning for their death, we should think of our own:
and, whatever loss we have of them now, we shall die shortly, and go to them.
Secondly, To him to heaven, to a state of blessedness, which even the Old
Testament saints had some expectation of. Godly parents have great reason to
hope concerning their children that die in infancy that it is well with their
souls in the other world; for the promise is to us and to our seed, which shall
be performed to those that do not put a bar in their own door, as infants do
not. Favores sunt ampliandi - Favours received should produce the hope of more.
God calls those his children that are born unto him; and, if they be his, he
will save them. This may comfort us when our children are removed from us by
death, they are better provided for, both in work and wealth, than they could
have been in this world. We shall be with them shortly, to part no more.” [=
‘Aku
akan pergi kepadanya.’ Pertama, kepadanya ke dalam
kubur.
Perhatikan, mempertimbangkan kematian kita sendiri seharusnya dapat mengurangi
kesedihan kita atas kematian kerabat kita. Ini adalah nasib yang umum; dari
pada meratapi kematian mereka, kita seharusnya memikirkan kematian kita
sendiri: dan, apa pun kerugian yang kita rasakan sekarang, kita juga akan mati
dan pergi kepada mereka. Kedua, kepadanya ke surga,
ke dalam keadaan kebahagiaan, yang bahkan para orang kudus
Perjanjian Lama pun sedikit banyak berharap akan hal ini. Orang
tua yang saleh memiliki alasan besar untuk berharap, mengenai anak-anak mereka
yang meninggal pada saat masih bayi, bahwa jiwa mereka baik-baik saja di dunia
lain;
sebab janji itu diberikan kepada kita dan keturunan kita, yang akan dipenuhi bagi
mereka yang tidak menghalangi diri mereka sendiri, seperti yang tidak dilakukan
bayi-bayi. Favores sunt ampliandi - Kebaikan yang diterima seharusnya
menumbuhkan pengharapan yang lebih besar. Allah
menyebut anak-anak yang lahir bagiNya sebagai anak-anakNya; dan jika mereka
milikNya, Dia akan menyelamatkan mereka. Ini bisa menjadi penghiburan bagi kita
ketika anak-anak kita dipanggil oleh kematian, karena mereka telah mendapatkan
tempat yang lebih baik, baik dalam pekerjaan maupun kekayaan, dari pada yang
bisa mereka dapatkan di dunia ini. Kita akan segera bersama mereka lagi, dan
tidak akan berpisah lagi.].
Calvin: “when
he said: ‘He shall not return to me’ but rather ‘I must go to him’, he was
showing here the hope that he had of life after death. For people will not
say that dumb animals go away to their fathers and mothers or to their
children! Why? Because there are creatures who have only a temporal life.
It is quite true that we only live in this world for a limited time, and to all
outward appearances, one could say, as does Solomon, that it is the same thing
that happens with the death of a man as with the death of a horse (Eccles.
3:19). However, let us take into consideration the fact that we are created
in the image of God, and that there is a better life for our souls. Thus, David
is assuming here that men are not to be like dumb animals.” [= pada waktu ia berkata: ‘Ia
tidak akan kembali kepadaku’ tetapi ‘Aku harus pergi kepada dia’, ia sedang
menunjukkan di sini pengharapan yang ia miliki tentang kehidupan setelah
kematian. Karena orang-orang tidak berkata bahwa binatang-binatang yang bisu
/ bodoh pergi kepada bapa dan ibu mereka atau kepada anak-anak mereka! Mengapa?
Karena mereka adalah makhluk-makhluk yang hanya mempunyai kehidupan sementara.
Adalah benar bahwa kita hanya hidup di dunia untuk waktu yang terbatas, dan
dari semua penampilan luar, seseorang bisa mengatakan, seperti dikatakan oleh
Salomo, bahwa hal yang sama yang terjadi dengan kematian manusia seperti dengan
kematian dari seekor kuda (Pkh 3:19). Tetapi,
hendaklah kita mempertimbangkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar
Allah, dan bahwa di
Pkh 3:19 - “Karena
nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa
mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya
mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai
kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.”.
Catatan: Kata Ibrani yang
diterjemahkan ‘nafas’ adalah RUAKH, yang pada umumnya diterjemahkan ‘roh’,
tetapi memang bisa berarti ‘angin’, ‘nafas’, ‘kecondongan’.
Calvin: “David
clearly knew that although he had life in this world, he had to wait another
life, even more certain than this one. Through this knowledge, he preached a
strong sermon to us, for we can see that he was always aware that after his
death he would without doubt contemplate the glory of God. Let us learn,
therefore, that though we are in this world, we should live in it in such a way
that we realise that we are invited to another life, which will be permanent,
and that God has chosen to separate us from dumb animals by imprinting the mark
of his image in us. Let us not be like the profane, who think everything is
extinguished at death, but let us realise that it is the passage through which
we go to those who have preceded us.” [= Daud dengan jelas tahu bahwa sekalipun ia
mempunyai kehidupan di dunia ini, ia harus menunggu kehidupan yang lain, yang
bahkan lebih pasti dari kehidupan yang ini. Melalui pengetahuan ini, ia
mengkhotbahkan suatu khotbah yang kuat bagi kita, karena kita bisa melihat bahwa
ia selalu sadar bahwa setelah kematiannya ia tak diragukan akan menatap
kemuliaan Allah. Karena itu, hendaklah kita belajar,
bahwa sekalipun kita ada dalam dunia ini, kita harus hidup di dalamnya dengan
suatu cara sedemikian rupa sehingga kita menyadari bahwa kita diundang pada
suatu kehidupan yang lain, yang akan merupakan kehidupan yang permanen, dan
bahwa Allah telah memilih kita untuk memisahkan kita dari binatang-binatang
yang bisu / bodoh, dengan mencap / menanamkan tanda dari gambarNya di dalam kita.
Hendaklah kita tidak seperti orang-orang biasa / duniawi, yang berpikir bahwa
sesuatu dipadamkan / dimatikan pada kematian, tetapi hendaklah kita menyadari
bahwa itu merupakan suatu jalan melalui mana kita pergi kepada mereka yang
telah mendahului kita.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 592-593.
Adam Clarke: “‘I shall go to
him, but he shall not return to me.’ It is not clear whether David by this
expressed his faith in the immortality of the soul; going to him may only mean,
I also shall die, and be gathered to my fathers, as he is. But whether David
expressed this or not, we know that the thing is true; and it is one of the
most solid grounds of consolation to surviving friends that they shall
eventually be joined to them in a state of conscious existence. This doctrine
has a very powerful tendency to alleviate the miseries of human life, and
reconcile us to the death of most beloved friends. And were we to admit the
contrary, grief, in many cases, would wear out its subject before it wore
itself out.” [= ‘Aku
akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.’ Tidak jelas
apakah Daud di sini menyatakan imannya pada keabadian jiwa; ‘pergi kepadanya’
mungkin hanya berarti, ‘Aku juga akan mati, dan
dikumpulkan kepada leluhurku, seperti dia.’ Namun, apakah
Daud menyatakannya atau tidak, kita tahu bahwa hal ini benar; dan ini adalah
salah satu dasar penghiburan yang paling kuat bagi teman-teman yang masih
hidup, bahwa mereka pada akhirnya akan bergabung dengan orang yang mereka
kasihi dalam keadaan keberadaan yang sadar. Ajaran ini memiliki kecenderungan
yang sangat kuat untuk meringankan penderitaan hidup manusia dan mendamaikan
kita dengan kematian teman-teman yang paling dicintai. Jika kita menerima
sebaliknya, dalam banyak kasus, kesedihan akan menghabiskan orang yang
merasakan kesedihan itu sebelum kesedihan itu sendiri memudar.].
Bible Knowledge Commentary: “David attested to the irrevocability of death - its finality
renders further petition absurd. I
will go to him, David said, but he will not return to me. This reflects his
conviction that the dead cannot return to life as it was. Rather it is the
living who go to the dead.”
[= Daud menyatakan bahwa kematian tidak bisa dibalikkan - kepastian
akhirnya membuat permohonan lebih lanjut menjadi tidak masuk akal. ‘Aku akan
pergi kepadanya,’ kata Daud, ‘tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.’ Ini
mencerminkan keyakinannya bahwa yang mati tidak bisa kembali ke kehidupan
seperti sebelumnya. Sebaliknya, yang hiduplah yang akan bergabung dengan yang
mati.].
Wycliffe Bible
Commentary: “‘I shall go to him.’
Cf. Job’s ‘the house appointed for all living’ (Job 30:23). Something of the
Hebrew idea of conscious existence in the next life may be implicit in the
common expression, ‘he was gathered to his fathers.’ Perhaps by this reference
David merely meant that the child could not return to life and activity, but he
himself would some day join his son in death.” [= ‘Aku akan pergi
kepadanya.’ Bandingkan dengan perkataan Ayub, ‘rumah yang disediakan untuk
segala yang hidup’ (Ayub 30:23). Ada sesuatu dari
gagasan Ibrani tentang keberadaan yang sadar di kehidupan berikutnya yang
mungkin tersirat dalam ungkapan umum, ‘ia dikumpulkan kepada nenek moyangnya.’
Mungkin, dengan pernyataan ini, Daud
hanya bermaksud bahwa anak itu tidak bisa kembali kepada kehidupan dan
aktivitasnya, tetapi ia sendiri suatu hari akan menyusul putranya dalam
kematian.].
Ayub 30:23 - “Ya,
aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, ke tempat segala yang hidup
dihimpunkan.”.
KJV: “For I know that thou wilt bring me to death, and to the house appointed for all living.” [= Sebab
aku tahu bahwa Engkau akan membawaku kepada maut / kematian, dan ke rumah yang
telah ditetapkan bagi semua yang hidup.].
b. Kedua, saya akan memberikan pandangan dari
ChatGPT.
Pertanyaan: apakah 2Samuel
12:23b menunjukkan bahwa bayi mati akan masuk surga?
Jawaban ChatGPT:
2Samuel 12:23b sering kali digunakan dalam
diskusi teologis tentang nasib bayi yang meninggal, khususnya terkait pandangan
bahwa mereka akan masuk surga. Ayat ini merupakan bagian dari respons Daud
setelah anaknya meninggal akibat hukuman Tuhan atas dosa Daud dan Batsyeba.
Daud berkata:
‘Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku
harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya,
tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.’
Analisis Ayat:
1. Konteks: Daud menunjukkan penerimaan atas kehendak
Tuhan. Ia mengakui bahwa anaknya yang telah meninggal tidak dapat kembali,
tetapi suatu hari Daud akan pergi ‘kepadanya.’
2. Interpretasi
‘pergi kepadanya’: Frasa ini sering
ditafsirkan sebagai rujukan pada kematian Daud sendiri. Namun, ada dua
pandangan utama:
a. Pandangan
eskatologis: Daud berbicara tentang pertemuan kembali
di alam baka (surga), yang mengimplikasikan bahwa bayi itu telah pergi ke
tempat yang aman di hadapan Tuhan.
b. Pandangan
non-eskatologis: Daud hanya merujuk
pada fakta bahwa ia juga akan mati suatu hari nanti tanpa secara spesifik menyebut
nasib akhir bayi tersebut.
3. Doktrin
tentang bayi dan keselamatan:
a. Alkitab tidak memberikan pernyataan eksplisit
bahwa semua bayi yang meninggal pasti masuk surga. Namun, beberapa tradisi
Kristen mendukung gagasan ini berdasarkan atribut Allah, seperti kasih,
keadilan, dan belas kasihan.
b. Yesus sendiri menunjukkan kasih khusus kepada
anak-anak dalam Matius 19:14: ‘Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu...
karena orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.’
c. Dalam Roma 1:20, tanggung jawab moral manusia
sering dikaitkan dengan kesadaran akan dosa, yang mungkin tidak dimiliki oleh
bayi.
Kesimpulan: 2Samuel 12:23b tidak
secara eksplisit menyatakan bahwa bayi yang meninggal pasti masuk surga, tetapi
banyak yang melihatnya sebagai implikasi bahwa Daud yakin anaknya berada dalam
keadaan damai di hadapan Tuhan. Keyakinan ini sering digabungkan dengan prinsip
teologi lainnya untuk mendukung pandangan bahwa bayi yang meninggal masuk
surga.
Jika
Anda ingin diskusi lebih mendalam tentang doktrin keselamatan untuk bayi,
silakan beri tahu saya!
==================================================
Pertanyaan: Kalau bayi mati masuk surga bagaimana
dengan dosa asal mereka? Bukankah dosa asal itu cukup untuk membuat Allah murka
kepada mereka?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda menyentuh doktrin dosa asal dan bagaimana Allah
menangani dosa dalam konteks bayi yang meninggal. Berikut adalah analisis
teologisnya:
1. Dosa Asal:
Dasar Teologis
Dosa asal merujuk pada kondisi dosa yang
diwariskan dari Adam dan Hawa kepada seluruh umat manusia (Roma 5:12-19).
Hal ini melibatkan:
a. Kerusakan
natur manusia: Semua manusia
dilahirkan dalam keadaan berdosa (Mazmur 51:7, ‘Dalam dosa aku dikandung ibuku’).
b. Status di
hadapan Allah: Dosa asal membuat
manusia berada dalam keadaan terpisah dari Allah sejak lahir.
Berdasarkan ini, dosa asal secara teknis cukup
untuk membuat manusia (termasuk bayi) layak menerima murka Allah.
2. Bagaimana
Allah Menyikapi Bayi dalam Konteks Dosa Asal?
a. Pandangan
Kasih Karunia Khusus bagi Bayi yang Meninggal
(1) Allah dalam kasih dan belas kasihanNya
memberikan keselamatan kepada bayi yang meninggal meskipun mereka memiliki dosa
asal.
(2) Dasar
teologis:
(a) Allah itu adil dan belas kasihNya melampaui
pemahaman manusia (Mazmur 103:13).
(b) Anak-anak tidak memiliki kesadaran moral untuk
memilih atau menolak Allah, sehingga mereka tidak bertanggung jawab secara
moral atas dosa asal.
b. Keselamatan
Melalui Kristus
(1) Beberapa teolog berpendapat bahwa bayi yang
meninggal diselamatkan melalui karya Kristus di kayu salib, yang menebus
dosa seluruh umat manusia,
termasuk dosa asal.
(2) Roma 5:18: ‘Sebab itu,
sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian
pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.’
c. Konsep
Innocent Accountability (Tidak Bertanggung Jawab Secara Pribadi)
Dosa asal membuat bayi memiliki natur dosa,
tetapi mereka belum melakukan dosa perbuatan. Dalam pandangan ini, Allah
mungkin tidak memperlakukan dosa asal bayi dengan cara yang sama seperti dosa
perbuatan orang dewasa.
3. Tradisi
Teologi: Pendekatan Berbeda
Beberapa tradisi gereja memberikan
perspektif tambahan:
a. Gereja
Katolik:
(1) Tradisi lama berbicara tentang ‘limbus
infantium’ (tempat bagi bayi yang meninggal tanpa baptisan), tetapi ini bukan
doktrin resmi.
(2) Gereja Katolik modern menekankan bahwa kita
menyerahkan nasib bayi yang meninggal kepada belas kasihan Allah (Katekismus
Gereja Katolik 1261).
b. Protestan:
Banyak denominasi Protestan percaya bahwa
bayi yang meninggal diselamatkan oleh kasih karunia Allah, karena mereka belum
mencapai usia akuntabilitas (age of accountability).
c. Gereja
Reformed:
Dalam pandangan Calvinis, bayi
yang dipilih oleh Allah termasuk dalam anugerah keselamatan meskipun memiliki dosa asal.
Catatan dari saya:
(Ini diambil dari Westminster Confession of
Faith Chapter X, no 3)
4. Bagaimana Menjawab Murka Allah?
a. Murka
Allah atas dosa adalah nyata,
tetapi kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui Kristus juga nyata. Dosa
asal tidak menghalangi kasih dan keadilan Allah untuk menyelamatkan bayi yang
meninggal.
b. Dalam konteks bayi, beberapa percaya bahwa
murka Allah yang ditujukan atas dosa asal telah sepenuhnya dipuaskan oleh
pengorbanan Kristus, sehingga Allah dapat dengan adil memberikan anugerah
kepada mereka.
Kesimpulan
1. Dosa asal
memang cukup untuk membuat manusia layak dihukum. Namun, dalam hal bayi yang meninggal, banyak
tradisi Kristen percaya bahwa kasih dan keadilan Allah memberikan jalan
keselamatan bagi mereka, terlepas dari dosa asal.
2. Akhirnya, meskipun ada misteri tentang
bagaimana Allah menangani dosa asal pada bayi, kita dapat yakin bahwa Allah
adalah adil dan penuh kasih. Kita percaya
bahwa keputusan Allah selalu benar dan penuh belas kasihan.
Jika Anda ingin eksplorasi lebih lanjut, mari kita
lanjutkan diskusinya!
c. Ketiga
saya akan memberikan banyak ayat yang menggunakan istilah yang mirip:
Kej 25:7-8 - “(7)
Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun,
(8) lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan
suntuk umur, maka ia
dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.”.
Catatan:
perlu diketahui bahwa ayah Abraham, yaitu Terah, adalah seorang penyembah
berhala.
Yos 24:2 - “Berkatalah Yosua
kepada seluruh bangsa itu: ‘Beginilah firman TUHAN, Allah
Kalau kata-kata ‘dikumpulkan kepada kaum
leluhurnya’ diartikan sebagai masuk
surga, itu berarti Terah juga masuk surga, dan ini pasti salah. Ini juga
berlaku untuk dua ayat di bawah ini.
Kej 35:29 - “Lalu
meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada
kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan
Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia.”.
Kej 49:33 - “Setelah
Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas
tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan
kepada kaum leluhurnya.”.
1Raja 1:21 - “Nanti aku ini
dan anakku Salomo dituduh bersalah segera sesudah tuanku raja mendapat
perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.’”.
1Raja 11:21 - “Ketika
didengar Hadad di Mesir, bahwa Daud telah mendapat
perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya dan
bahwa panglima Yoab sudah mati juga, maka berkatalah Hadad kepada Firaun: ‘Biarkanlah
aku pergi ke negeriku.’”.
1Raja 11:43 - “Kemudian Salomo
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
1Raja 14:20 - “Lamanya
Yerobeam memerintah ada dua puluh dua tahun, kemudian ia
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.
Maka anaknya menjadi raja menggantikan dia.”.
1Raja 14:31 - “Kemudian Rehabeam
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
1Raja 15:8 - “Kemudian Abiam
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
1Raja 15:24 - “Kemudian Asa
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
1Raja 16:6 - “Kemudian
Baesa mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di Tirza. Maka Ela, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”.
1Raja 16:28 - “Kemudian
Omri mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
1Raja 22:40 - “Demikianlah Ahab
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.
Maka Ahazia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”.
1Raja 22:51 - “Kemudian Yosafat
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
2Raja 8:24 - “Kemudian Yoram
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
2Raja 10:35 - “Kemudian Yehu
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
2Raja 13:9 - “Kemudian Yoahas
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
2Raja 13:13 - “Setelah Yoas
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
maka duduklah Yerobeam di atas takhta ayahnya. Dan Yoas dikuburkan di
2Raja 14:16 - “Kemudian Yoas
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di
2Raja 14:22 - “Ia memperkuat
Elat dan mengembalikannya kepada Yehuda, sesudah raja
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.”.
2Raja 14:29 - “Kemudian
Yerobeam mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
raja-raja
2Raja 15:7 - “Kemudian Azarya
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
2Raja 15:22 - “Kemudian Menahem
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.
Maka Pekahya, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”.
2Raja 15:38 - “Kemudian Yotam
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
2Raja 16:20 - “Kemudian Ahas
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di
2Raja 20:21 - “Kemudian Hizkia
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya.
Maka Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”.
2Raja 21:18 - “Kemudian Manasye
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan ia dikuburkan di taman istananya, di taman Uza. Maka Amon, anaknya, menjadi
raja menggantikan dia.”.
2Raja 24:6 - “Kemudian Yoyakim
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
maka Yoyakhin, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.”.
Catatan tentang banyak ayat-ayat di atas:
(1) Hati-hati
karena adanya persamaan nama dari dua orang yang berbeda. Sebagai contoh: Yoas
dalam 2Raja 13:13 dan Yoas dalam 2Raja 14:16 adalah dua orang yang
berbeda. Juga Yerobeam dalam 2Raja 14:29 bukanlah Yerobeam yang sejaman
dengan Rehabeam.
(2) Tetapi
penekanan saya dalam memberikan banyak ayat di atas adalah: baik untuk raja
yang percaya maupun raja yang bukan orang percaya sama-sama digunakan istilah ‘mendapat
perhentian dengan nenek moyangnya’.
Sebagai contoh: Hizkia adalah orang percaya, tetapi Manasye (anak Hizkia) bukan orang percaya.
Karena itu istilah ini tidak mungkin bisa
diartikan ‘masuk surga’!!!
Kesimpulan saya dari semua ini: saya
tetap tidak tahu apakah bayi mati akan masuk surga atau neraka.
Tetapi saudara yang membaca tulisan ini bukan bayi. Kalau saudara tidak
pernah
Comments
Post a Comment